Monday, August 18, 2014

bahan daging

kehidupan akan foredi mencermikan akan kemurnian leluhur, begitu juga...





secara alami kebahagiaan jamu kuat juga merupakan pengoabatan yang....



begitupula dengan obat ejakulasi dini merupaPada daging olahan, bahan tambahan makanan dapat ditambahkan pada daging untuk mengubah rasa, meningkatkan usia simpan, atau mengubah sifat lainnya. Contoh bahan aditif yang ditambahkan pada daging yaitu:[13]

Garam merupakan bahan aditif yang paling banyak digunakan. Selain mempengaruhi rasa, garam juga menghambat pertumbuhan mikroba sehingga memperpanjang usia simpan. Umumnya jumlah garam yang ditambahkan berjumlah 1.5 hingga 2.5% dari massa daging yang diproses.[13]
Nitrit digunakan untuk mengawetkan, menstabilkan warna dan rasa daging, dan menghambat pertumbuhan mikroorganisme penghasil spora seperti Clostridium botulinum. Sosis dan prosciuto merupakan produk daging yang paling sering menggunakan nitrit.Pada daging olahan, bahan tambahan makanan dapat ditambahkan pada daging untuk mengubah rasa, meningkatkan usia simpan, atau mengubah sifat lainnya. Contoh bahan aditif yang ditambahkan pada daging yaitu:[13]

Garam merupakan bahan aditif yang paling banyak digunakan. Selain mempengaruhi rasa, garam juga menghambat pertumbuhan mikroba sehingga memperpanjang usia simpan. Umumnya jumlah garam yang ditambahkan berjumlah 1.5 hingga 2.5% dari massa daging yang diproses.[13]
Nitrit digunakan untuk mengawetkan, menstabilkan warna dan rasa daging, dan menghambat pertumbuhan mikroorganisme penghasil spora seperti Clostridium botulinum. Sosis dan prosciuto merupakan produk daging yang paling sering menggunakan nitrit.[13]
Fosfat, terutama natrium tripolifosfat digunakan sebagai pengikat air, pengemulsi protein daging, penghambat oksidasi lipid, mengurangi pertumbuhan mikroba, dan menjaga kestabilan rasa.[13]
Eritorbat dan asam askorbat (vitamin C) digunakan untuk menstabilkan warna daging.[13]
Gula dan sirup jagung sebagai pemanis, juga untuk mengikat air dan memberikan warna coklat ketika dimasak karena reaksi Maillard.[13]
Bumbu yang terbuat dari rempah-rempah, rempah daun, oleoresin, dan minyak atsiri.[13]
Penguat rasa seperti mononatrium glutamat.[13]
Enzim proteolitik untuk melunakkan daging.[13]
Bahan antimikroba seperti asam laktat, asam sitrat, asam asetat, dan sebagainya.[13]
Antioksidan.[13]
Pengatur keasaman, seringkali adalah asam laktat dan asam sitrat.[13]
Industri daging di Indonesia[sunting | sunting sumber]
Produksi daging mamalia[sunting | sunting sumber]
Berikut adalah produksi daging per tahun di Indonesia

tahun 2003 = 369.700 ton
tahun 2004 = 445.600 ton
tahun 2005 = 358.700 ton
tahun 2006 = 395.800 ton
tahun 2007 = 418.300 ton
tahun 2009 = 399.000 ton [14]
tahun 2010 = 410.000 ton (perkiraan)[15]
tahun 2014 = 590.000 ton (target)[16]
sumber : dirjen peternakan (2007)[17]

Daerah yang dijadikan fokus peningkatan produksi daging sapi yakni Aceh, Sumut, Sumsel, Jambi, Riau, Lampung, Sumbar, Jabar, Jateng, Jatim, Yogyakarta, Bali, Kalsel, Sulsel, Sulbar, Sulteng, Sultra, Gorontalo, NTB dan NTT.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]
Ikon portal Portal Pertanian
Bagian daging sapi[13]
Fosfat, terutama natrium tripolifosfat digunakan sebagai pengikat air, pengemulsi protein daging, penghambat oksidasi lipid, mengurangi pertumbuhan mikroba, dan menjaga kestabilan rasa.[13]
Eritorbat dan asam askorbat (vitamin C) digunakan untuk menstabilkan warna daging.[13]
Gula dan sirup jagung sebagai pemanis, juga untuk mengikat air dan memberikan warna coklat ketika dimasak karena reaksi Maillard.[13]
Bumbu yang terbuat dari rempah-rempah, rempah daun, oleoresin, dan minyak atsiri.[13]
Penguat rasa seperti mononatrium glutamat.[13]
Enzim proteolitik untuk melunakkan daging.[13]
Bahan antimikroba seperti asam laktat, asam sitrat, asam asetat, dan sebagainya.[13]
Antioksidan.[13]
Pengatur keasaman,Pada daging olahan, bahan tambahan makanan dapat ditambahkan pada daging untuk mengubah rasa, meningkatkan usia simpan, atau mengubah sifat lainnya. Contoh bahan aditif yang ditambahkan pada daging yaitu:[13]

Garam merupakan bahan aditif yang paling banyak digunakan. Selain mempengaruhi rasa, garam juga menghambat pertumbuhan mikroba sehingga memperpanjang usia simpan. Umumnya jumlah garam yang ditambahkan berjumlah 1.5 hingga 2.5% dari massa daging yang diproses.[13]
Nitrit digunakan untuk mengawetkan, menstabilkan warna dan rasa daging, dan menghambat pertumbuhan mikroorganisme penghasil spora seperti Clostridium botulinum. Sosis dan prosciuto merupakan produk daging yang paling sering menggunakan nitrit.[13]
Fosfat, terutama natrium tripolifosfat digunakan sebagai pengikat air, pengemulsi protein daging, penghambat oksidasi lipid, mengurangi pertumbuhan mikroba, dan menjaga kestabilan rasa.[13]
Eritorbat dan asam askorbat (vitamin C) digunakan untuk menstabilkan warna daging.[13]
Gula dan sirup jagung sebagai pemanis, juga untuk mengikat air dan memberikan warna coklat ketika dimasak karena reaksi Maillard.[13]
Bumbu yang terbuat dari rempah-rempah, rempah daun, oleoresin, dan minyak atsiri.[13]
Penguat rasa seperti mononatrium glutamat.[13]
Enzim proteolitik untuk melunakkan daging.[13]
Bahan antimikroba seperti asam laktat, asam sitrat, asam asetat, dan sebagainya.[13]
Antioksidan.[13]
Pengatur keasaman, seringkali adalah asam laktat dan asam sitrat.[13]
Industri daging di Indonesia[sunting | sunting sumber]
Produksi daging mamalia[sunting | sunting sumber]
Berikut adalah produksi daging per tahun di Indonesia

tahun 2003 = 369.700 ton
tahun 2004 = 445.600 ton
tahun 2005 = 358.700 ton
tahun 2006 = 395.800 ton
tahun 2007 = 418.300 ton
tahun 2009 = 399.000 ton [14]
tahun 2010 = 410.000 ton (perkiraan)[15]
tahun 2014 = 590.000 ton (target)[16]
sumber : dirjen peternakan (2007)[17]

Daerah yang dijadikan fokus peningkatan produksi daging sapi yakni Aceh, Sumut, Sumsel, Jambi, Riau, Lampung, Sumbar, Jabar, Jateng, Jatim, Yogyakarta, Bali, Kalsel, Sulsel, Sulbar, Sulteng, Sultra, Gorontalo, NTB dan NTT.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]
Ikon portal Portal Pertanian
Bagian daging sapi seringkali adalah asam laktat dan asam sitrat.[13]
Industri daging di Indonesia[sunting | sunting sumber]
Produksi daging mamalia[sunting | sunting sumber]
Berikut adalah produksi daging per tahun di Indonesia

tahun 2003 = 369.700 tonPada daging olahan, bahan tambahan makanan dapat ditambahkan pada daging untuk mengubah rasa, meningkatkan usia simpan, atau mengubah sifat lainnya. Contoh bahan aditif yang ditambahkan pada daging yaitu:[13]

Garam merupakan bahan aditif yang paling banyak digunakan. Selain mempengaruhi rasa, garam juga menghambat pertumbuhan mikroba sehingga memperpanjang usia simpan. Umumnya jumlah garam yang ditambahkan berjumlah 1.5 hingga 2.5% dari massa daging yang diproses.[13]
Nitrit digunakan untuk mengawetkan, menstabilkan warna dan rasa daging, dan menghambat pertumbuhan mikroorganisme penghasil spora seperti Clostridium botulinum. Sosis dan prosciuto merupakan produk daging yang paling sering menggunakan nitrit.[13]
Fosfat, terutama natrium tripolifosfat digunakan sebagai pengikat air, pengemulsi protein daging, penghambat oksidasi lipid, mengurangi pertumbuhan mikroba, dan menjaga kestabilan rasa.[13]
Eritorbat dan asam askorbat (vitamin C) digunakan untuk menstabilkan warna daging.[13]
Gula dan sirup jagung sebagai pemanis, juga untuk mengikat air dan memberikan warna coklat ketika dimasak karena reaksi Maillard.[13]
Bumbu yang terbuat dari rempah-rempah, rempah daun, oleoresin, dan minyak atsiri.[13]
Penguat rasa seperti mononatrium glutamat.[13]
Enzim proteolitik untuk melunakkan daging.[13]
Bahan antimikroba seperti asam laktat, asam sitrat, asam asetat, dan sebagainya.[13]
Antioksidan.[13]
Pengatur keasaman, seringkali adalah asam laktat dan asam sitrat.[13]
Industri daging di Indonesia[sunting | sunting sumber]
Produksi daging mamalia[sunting | sunting sumber]
Berikut adalah produksi daging per tahun di Indonesia

tahun 2003 = 369.700 ton
tahun 2004 = 445.600 ton
tahun 2005 = 358.700 ton
tahun 2006 = 395.800 ton
tahun 2007 = 418.300 ton
tahun 2009 = 399.000 ton [14]
tahun 2010 = 410.000 ton (perkiraan)[15]
tahun 2014 = 590.000 ton (target)[16]
sumber : dirjen peternakan (2007)[17]

Daerah yang dijadikan fokus peningkatan produksi daging sapi yakni Aceh, Sumut, Sumsel, Jambi, Riau, Lampung, Sumbar, Jabar, Jateng, Jatim, Yogyakarta, Bali, Kalsel, Sulsel, Sulbar, Sulteng, Sultra, Gorontalo, NTB dan NTT.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]
Ikon portal Portal Pertanian
Bagian daging sapi
tahun 2004 = 445.600 ton
tahun 2005 = 358.700 ton
tahun 2006 = 395.800 ton
tahun 2007 = 418.300 ton
tahun 2009 = 399.000 ton [14]
tahun 2010 = 410.000 ton (perkiraan)[15]
tahun 2014 = 590.000 ton (target)[16]
sumber : dirjen peternakan (2007)[17]

Daerah yang dijadikan fokus peningkatanPada daging olahan, bahan tambahan makanan dapat ditambahkan pada daging untuk mengubah rasa, meningkatkan usia simpan, atau mengubah sifat lainnya. Contoh bahan aditif yang ditambahkan pada daging yaitu:[13]

Garam merupakan bahan aditif yang paling banyak digunakan. Selain mempengaruhi rasa, garam juga menghambat pertumbuhan mikroba sehingga memperpanjang usia simpan. Umumnya jumlah garam yang ditambahkan berjumlah 1.5 hingga 2.5% dari massa daging yang diproses.[13]
Nitrit digunakan untuk mengawetkan, menstabilkan warna dan rasa daging, dan menghambat pertumbuhan mikroorganisme penghasil spora seperti Clostridium botulinum. Sosis dan prosciuto merupakan produk daging yang paling sering menggunakan nitrit.[13]
Fosfat, terutama natrium tripolifosfat digunakan sebagai pengikat air, pengemulsi protein daging, penghambat oksidasi lipid, mengurangi pertumbuhan mikroba, dan menjaga kestabilan rasa.[13]
Eritorbat dan asam askorbat (vitamin C) digunakan untuk menstabilkan warna daging.[13]
Gula dan sirup jagung sebagai pemanis, juga untuk mengikat air dan memberikan warna coklat ketika dimasak karena reaksi Maillard.[13]
Bumbu yang terbuat dari rempah-rempah, rempah daun, oleoresin, dan minyak atsiri.[13]
Penguat rasa seperti mononatrium glutamat.[13]
Enzim proteolitik untuk melunakkan daging.[13]
Bahan antimikroba seperti asam laktat, asam sitrat, asam asetat, dan sebagainya.[13]
Antioksidan.[13]
Pengatur keasaman, seringkali adalah asam laktat dan asam sitrat.[13]
Industri daging di Indonesia[sunting | sunting sumber]
Produksi daging mamalia[sunting | sunting sumber]
Berikut adalah produksi daging per tahun di Indonesia

tahun 2003 = 369.700 ton
tahun 2004 = 445.600 ton
tahun 2005 = 358.700 ton
tahun 2006 = 395.800 ton
tahun 2007 = 418.300 ton
tahun 2009 = 399.000 ton [14]
tahun 2010 = 410.000 ton (perkiraan)[15]
tahun 2014 = 590.000 ton (target)[16]
sumber : dirjen peternakan (2007)[17]

Daerah yang dijadikan fokus peningkatan produksi daging sapi yakni Aceh, Sumut, Sumsel, Jambi, Riau, Lampung, Sumbar, Jabar, Jateng, Jatim, Yogyakarta, Bali, Kalsel, Sulsel, Sulbar, Sulteng, Sultra, Gorontalo, NTB dan NTT.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]
Ikon portal Portal Pertanian
Bagian daging sapi produksi daging sapi yakni Aceh, Sumut, Sumsel, Jambi, Riau, Lampung, Sumbar, Jabar, Jateng, Jatim, Yogyakarta, Bali, Kalsel, Sulsel, Sulbar, Sulteng, Sultra, Gorontalo, NTB dan NTT.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]
Ikon portal Portal Pertanian
Bagian daging sapi

makanan